Minggu, 12 Agustus 2012

Hidup Dalam Pimpinan Tuhan( Epesus 5 : 15 – 20 )

Rasul Paulus mengirim suratnya kepada orang Kristen yang ada di Efesus ketika ia dalam penjara di Roma. Tujuannya untuk membekali dan menguatkan jemaat Efesus untuk tetap didalam iman yang teguh, tetap berbuat baik, kasih dan damai terhadap sesama sebagai anak-anak terang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus Yesus, walaupun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Setiap orang Kristen terpanggil untuk hidup kudus, sebab telah dikuduskan didalam Kristus Yesus ( Efesus 1 : 1  ;  Roma 1 : 7  ; 1 Kor 1 : 2 ).
Dikatakan : "…. Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiran yang sia-sia (4 : 17), sebab itu jadilah penurut-penurut Allah seperti anak-anak yang kekasih…." ( 5 : 1 ).
Nats mengingatkan dan mengajak setiap orang percaya untuk menunjukkan jatidirinya sebagai pengikut Kristus dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang berkenan dihadapan Tuhan. Kita terpanggil untuk hidup kudus walaupun berada ditengah-tengah dunia yang penuh dosa dan cemar ini. Itu bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan pimpinan Tuhan melalui Roh Kudus kita menjadi dimampukan :
1.  Menjadi Kristen yang arif / bijaksana (marroha) bukan orang bebal (na so marroha .
    Dalam ayat 15 yang disebut orang arif itu adalah orang yang hidup dengan cukup seksama, yang beroleh hikmat kebijaksanaan untuk mengenal yang baik dan tidak baik serta yang cukup hati-hati dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Dengan kesediaan kita mendengar, memperhatikan, merenungkan firman Tuhan serta memberikan hidup kita dipimpin olehTuhan, kita akan beroleh hati yang bijaksana.  “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepada ku pada waktu pagi, sebab kepada - Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah ku angkat jiwaku“ (Mzm 143 : 8 )
2.  Mempergunakan waktu yang ada
   Waktu merupakan anugrah Tuhan. Manusia diharapkan untuk selalu mempergunakan hari-harinya dengan baik, sebab hari-harinya terbatas didunia ini. Semua hari-hari itu dijadikan Tuhan baik, hanya saja tergantung kepada manusia itu sendiri bagaimana untuk mempergunakan dan mengisi hari-harinya:  apakah dengan hal yang sia-sia atau sebaliknya hal yang berkenan kepada Allah. Tuhan menciptakan manusia bukan seperti robot melainkan diberi kebebasan berkarya dan memilih, tetapi kebebasan yang kelak dipertanggung jawabkan. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana“  (Mzm 90 : 12 )
3.  Mengucap syukur senantiasa kepada Tuhan
     Rasa syukur membuat kita beriman sehingga mengakui, memuji-muji dan memberitakan perbuatan kebesaran Tuhan. Pengenalan akan berkat-berkat Tuhan akan mendorong kita untuk senantiasa mengucap syukur, tidak hanya dalam hal senang tetapi juga dalam kesusahan. Allah telah menunjukkan keselamatanNya kepada kita didalam Yesus Kristus atas pengorbananNya dan cinta kasihNya yang tidak menuntut apa-apa.
4.  Hidup dalam kerendahan hati
     Kerendahan hati mendekatkan kita kepada Allah sehingga kita bisa menilai diri sendiri dari sudut pandang kebesaranNya. Mengenal diri sendiri sebagai manusia yang dikasihi Tuhan maka kita bersedia memberikan hati kita dibimbing dan dituntun olehNya. Tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak dapat berbuatapa-apa ( Yoh 15 : 5)

Diskusi :
1.  Dalam nats, hal apakah yang harus kita perbuat sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan? ( Angka dia ma ingkon jumpang dingolunta songon angka na ungtinobusNahita ?)
2.  Kepada siapakah kita mempercayakan hidup supaya dapat hidup berkenan kepadaNya?( Tuise do hitapasahathon ngolunta asa tarulahon hitana tama ?)                                                                               

Kamis, 02 Agustus 2012

Allah menyanggupi kebutuhan orang percaya (1 Rajaraja 19: 4-9)


            Begitu berat untuk mengikuti perjalanan hidup ini. Ragam yang harus kita lewati, susah, senang. Dikala kita merasa tidak sanggup untuk menjalaninya, itu yang mendatangkan keputusasaan bagi kita. Dikala kita bisa dan sanggup, kita tidak boleh mengatakan kalau itu karena kekuatan, pikiran dan perbuatan kita sendiri, tetapi kita harus akui, bahwa yang dapat membuat kita untuk bisa bertahan hidup, adalah dengan Kasih karunia dan  pertolongan Tuhan, karena kita tidak bisa melakukan apapun kalau tidak seturut dengan kehendak-Nya.
            Nabi Elia adalah seorang nabi yang menginginkan agar bangsa Israel betul-betul taat dan setia kepada Allah, dan tidak menyembah berhala. Karena itulah Nabi Elia dapat melakukan apa saja demi kebenaran akan Firman Tuhan. Dan dia diberkati dlam segala pekerjaannya untuk kemuliaan Tuhan. Dalam nas ini dikatakan Nabi Elia dikejarkejar suruhan Izebel, agar dihukum mati juga. Sebelum nas ini dapat kita baca (1-4), bagaimana Nabi Elia memusnakan(membunuh) nabi-nabi baal yang menyembah berhala, itulah yang menjadi marah besar Izebel kepada Nabi Elia atas laporan Ahab. Nabi Elia harus mati seperti yang telah diperbuatnya kepada nabinabi baal itu. Mendegar itu lalu ketakutanlah Nabi Elia dengan melarikan diri ke padang gurun, disana ia merasa lelah dan ada rasa putus asa yang dilontarkan Nabi Elia, karena kelelahan dan merasa tidak mampu lagi untuk melarikan diri dari suruan Izebel. Dengan keterbatasan kemanusian Nabi Elia sehingga ia lelah n putus asa ,dengan :
Ay 4; Nabi Elia dikejar-kejar suruan Izebel, lalu ia bersembunyi di Padang gurun, lalu dia duduk di bawah pohon arar. Dengan penyerahan kata pasrah kepada Tuhan, dan mengakui keterbatasannya sebagai hamba Tuhan, dari nenek moyangnya. Manusia tidak lagi seperti sifat dan penyerahan diri Nabi Elia ini kepada Tuhan, tetapi sering kali manusia memaksakan kehendak kepada Tuhan. Ini lah yang menjadi kekurangan dan kelemahan manusia dihadapan Tuhan, yang selalu merasa merasa mampu untuk melakukan sesuatu dalam dirinya, dikala dia gagal maka timbullah sungut-sungut kepada Tuhan. Kita diingatkan supaya setiap kali kita melangkah, menyerahkan diri kepada Tuhan, dna tidak abersandar pada akal dan pikitan sendiri.
Ay 5-8; Roh Allah bekerja bagi orang-oarang yang meminta pertolongan dari-Nya. Nabi Elia tertidur di bawah pohon arar, karena merasa lelah, lapar. Dengan itu datanglah Malaikat Allah mendapatkan Nabi Elia dengan membawakan makanan, minuman kepadanya. Begitu besar kuasa Tuhan bagi orang yang melakukan kehendak-Nya. Sampai makan n minumnyapun diberikan. Sampai 2 kali Malaikat Tuhan menyentuh Nabi Elia dengan mengingatkan dia untuk makan dan minun, agar melanjutkan perjalanannya ke Gunung Horeb. Perjalanan kegunung Horeb dia lalui sampai 40 Hari 40 Malam lamanya perjalan yang ditempuh Nabi Elia. Dia dapat kuat hanya dengan makanan yang disiapkan oleh Malaikat Tuhan, sungguh heran bukan?????.... bagaimana kita boleh menikmati hidup ini dengan berkecukupan dalam hidup kita, kalau seluruh pekerjaan, hidup, kita serahkan kepada Tuhan, agar Dia yang tuntun dan berikan jalan.
Dengan Firman Tuhan ini kita bisa dikuatkan untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan, dengan melakukan kehendak-Nya dalam setiap hidup kita. Menyatakan kebenaran, dan selalu berserah dalam tangan pengasihan-Nya, jangan mengandalkan pikiran sendiri, tetapi nyatakanlah kepada Tuhan apa yang kita inginkan dalam Doa dan ucapan Syukur (Flp.4:6). Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37).
Renungan/Diskusi
-          Apa yang harus kita perbuat atas berkat Tuhan yang melindungi kita?
(Aha ma sipatupaonta, ala naung tajalo pasupasu sian Tuhan I ?)
-          Tuhan tetap setia melindungi orang yang percaya kepadanNya.(Dijaga Tuhan ido angka na hinaholongan ni rohaNa.

Rabu, 01 Agustus 2012

Makan Untuk Hidup vs Hidup Untuk Makan! (Keluaran 16 : 2 – 4 ; 9 – 15)


Seringkali manusia tidak dapat menikmati kehidupan ini sehingga memungkinkan seseorang mengalami keputusaan lalu menyudahi hidupnya dengan tujuan selesailah perjuangan yang sulit itu, tapi benarkah demikian? Teks ini menceritakan pengalaman umat Israel yang tidak sabar dalam tuntunan Allah sehingga mereka bersungut-sungut dan menyatakan lebih baik mereka mengalami kematian di Mesir dengan kelimpahan dari pada harus mengahadapi perjalanan di Padang gurun. Demikian juga dengan manusia yang tidak mengerti akan arti hidup ini, sehingga menghalalkan segala cara dalam hidupnya asal ada makanan. Manusia lupa bahwa sejak penciptaan, Allah telah menyediakan apa yang diperlukan manusia termasuk makanannya untuk kehidupannya. Sekalipun manusia telah jatuh kedalam dosa yang mengakibatkan sulit atau harus berkerja keras untuk kebutuhannya, tetapi Allah tetap campur tangan untuk memampukan manusia menyelesaikan persoalannya sehingga Allah sendiri yang memulihkan keberadaan manusia itu dengan mengutus AnakNya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus. Didalam dan melalui Yesus Kristus manusia dapat memiliki kehidupan yang kekal, itu sebabnya Yesus Kristus menyatakan pengajaranNya saat Dia dicobai oleh iblis untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menjawab “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Ini berarti kehidupan manusia tidak tergantung dari makanan secara jasmani saja, bahkan belakangan ini banyak orang yang mengalami kematian karena tidak dapat mengendalikan ketamakannya terhadap makanan, yang menjadikan dirinya obesitas, kolesterol, darah tinggi dan lain-lain akhirnya Game Over.  Bagaimanakah kita sebagai umat Allah memaknai hidup di dunia ini (POLA HIDUP ORANG KRISTEN) :

1.        Mengetahui apa yang menjadi prioritas dalam hidup ini (ay.2-4). Artinya sebagai milik Tuhan Yesus Kristus, kita harus mempercayai bahwa Bapa di Surga mengetahui apa yang kita perlukan. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6 : 32,34).

2.       Melakukan aktifitas kehidupan kita dengan mewujudnyatakan iman kita kepada Allah yang Maha Kuasa (ay.9-12). Jika kita mengetahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Bapa kita yang mengerti keperluan hidup kita tentunya kita dapat memohonkannya dalam doa dan permohonan denagn ucapan syukur bukan dengan bersungut-sungut kepada orang lain, hal inilah merupakan tindakan iman kita. Ketika kita menghadapi pergumulan atau masalah dalam hidup ini kita diajar untuk menyatakan dalam segala hal artinya kita harus terbuka dihadapan Tuhan, tidak perlu kita sembunyikan, inilah yang menjadi pola hidup Kristiani yang harus diwujudkan sebagai anak-anak Allah. Marilah kita belajar membentuk pola hidup yang baik dan berkenan kepada Allah dengan menyatakan segala sesuatu kepada Allah dengan ucapan syukur. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6).

3.      Mempercayai bahwa Tuhan-lah yang memberikan roti yang menjadi makanan kita (ay.13-15). Dalam injil Yohanes, Yesus menyatakan diriNya sebagai Roti Surga . “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga.  Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya,  dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."  (Yohanes 6:51). Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” (Yohanes 6:53). Ini adalah sebuah peristiwa dalam pelayanan Yesus di Galilea, dimana banyak para pengikutnya mengundurkan diri karena perkataan Yesus yang sangat keras, dimana para pengikutNya tidak dapat menerima. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yohanes 6:60). Dalam hal ini para pengikutnya tidak mempuyai kepekaan terhadap perkataan Yesus. Sesungguhnya perkataan itu tidak diterjemahkan secara harafiah, melainkan bagaimana dalam kehidupan kita sungguh-sungguh memilki sifat yang Yesus kehendaki.

Dengan demikian melalui hal ini kita dapat belajar untuk senantiasa berpaut kepada Tuhan dan senantiasa datang kepadaNya; pernyataan Yesus yang sangat tegas dan keras kepada para pengikutNya yang mengundur diri, sesungguhnya sangat bermanfaat untuk meneguhkan kita dalam mengoreksi kesetiaan dan ketaatan kita kepada Yesus Kristus. Menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan karena kita adalah milikNya semata.

Bahan Diskusi:
1.  Apakah yang menjadi prioritas dalam hidupmu? (Diama narumingkot dibagasan ngolum?)
2. Kepada siapakah kita menyatakan seluruh keperluan hidup kita? (Tu dia do pasahathon mu saluhut ngolum?) 
3. Siapakah yang memberikan seluruh keperluan hidupmu? (Ise do na sumarihon ngolum?)

Jumat, 29 Juni 2012

"PENUHI PANGGILANMU!!!" (2 Korintus 11:16-17)

Minggu V Setelah Trinitatis: Ke- Tritunggalan  Allah (Hasitolusaon ni Debata)

      Banyak orang memiliki pengertian yang keliru tentang pelayanan. Tidak sedikit orang memahami bahwa pelayanan itu adalah bagian dari orang-orang yang dikhususkan seperti Pendeta, Penginjil, Penatua, dll. Dengan demikian ada banyak orang tidak memberikan perhatian kepada pelayanan karena merasa ia adalah jemaat biasa. Padahal setiap orang percaya adalah pelayan Tuhan. Kalau kita lihat Asal mula dosa ialah kemegahan terhadap diri sendiri, sebagaimana Hawa yang ingin sama dengan Penciptanya (Allah) Kej. 3. Sifat seperti itulah yang terbawabawa manusia sampai saat ini, manusia sudah banyak yang memegahkan diri sendiri, padahal apa yang dia miliki adalah Karunia Allah pada dirinya. Paulus mengatakan dirinya adalah Rasul, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi atas pilihan Allah. Memang yang dikatakan rasul adalah orang yang merintis (Mendirikan) jemaat itu. Tetapi dengan latarbelakang jemaat Korintus bukanlah atas pelayanan Paulus, tetapi Paulus menindaklanjuti pelayanan yang telah ada. Itulah sebabnya suatu pergumulan besar buat Paulus untuk menjaga kerohanian jemaat Korintus, agar tidak terpengaruh kepada ajaran-ajaran sesat dari rasul-rasul palsu yang datang untuk memegahkan diri mereka, sehingga menyombongkan diri. Menurut dari perkataan Paulus di 2 Kor. 10:17 “ Sebab barang siapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan”. Karena itu tidak baik seseorang itu bermegah kalau hanya untuk meninggikan dirinya sendiri, sebab Tuhan tidak menyukai hal seperti itu. Orang yang bermegah adalah keinginan daging tetapi bukan keinginan Kristus. Tuhan tidak suka kepada orang yang bermegah diri. Kalaupun ia mau bermegah baiklah bermegah di dalam Tuhan. Beberapa hal yang perlu kita ingat dalam hidup kita sebagai Hamba Tuhan:
1.Status Kerasulan Paulus adalah Karunia Allah (Kis.9), demikian dengan status keberadaan kita menjadi berharga karena Kasih Karunia Allah. Paulus menekankan kepada jemaat Korintus, dengan tegas bahwa janganlah kiranya ada menganggap dia bodoh. Karena Paulus adalah Rasul Tuhan. Kalau jemaat Korintus boleh menerima rasul palsu itu, paulus juga mau diterima dengan dianggap bodoh, tetapi disamping kebodohan yang mereka anggap, paulus dapat bermegah. Memegahkan diri adalah suatu kebodohan, tetapi Paulus harus berbuat demikian agar mereka tetap menerima Paulus sebagai orang bodoh, dengan demikian Injil Kristus tetap terpelihara dalam jemaat Korintus. Karena itu kita sebagai Hamba Tuhan, kita harus sadar, kalau kita boleh seperti saat ini, janganlah kita bangga dengan diri kita, karena itu semua kita peroleh dari kasih Karunia Allah, patutlah kita mensyukurinya dengan melakukan tanggung jawab kita sebagai seorang Pelayan di tengah-tengah Gereja dan lingkungan agar jemaat kita tidak terpengaruh dengan ajaran-ajaran lain (sesat).
2.  Bermegah di dalam Tuhan. Sikap memegahkan diri bukanlah berasal dari Kristus, karena hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sifat itu berasal dari kehendak duniawi dan kehendak daging. Sifat memegahkan diri tidak sesuai dengan teladan Kristus yang telah merendakan diri-Nya (Flp 2:5-8). Dan bagi Paulus, hal itu juga tidaklah biasa karena ia juga telah disalibkan bagi dunia (Gal 6:14). Tuhan Yesus tidak memegahkan diri-Nya, dan Roh-Nya pun tidak pernah memimpin orang-orang untuk memegahkan diri sendiri. Oleh  karena keadaan jemaat di Korintus dan para rasul palsu di dalam jemaat itu, Paulus terpaksa memegahkan diri untuk membela kebenaran. Paulus menuliskan itu bukan berarti tulisanya tidak di Ilhamkan Tuhan. Hanya perkataan itu tidak berhubungan dengan ilham dari Tuhan. Memegahkan diri sendiri sebenarnya bukanlah suatu hal yang menyenangkan bagi Paulus yang suka mencari pujian dari manusia. Dalam keadaan demikian dia dengan keadaan terpaksa memegahkan diri sendiri untuk membela kebenaran dan menutup mulut para rasul palsu itu. Setiap orang yang sudah ditebus didalam darah Kristus adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari dosa (Gal.5:1). Namun kemerdekaan yang Tuhan berikan itu bukan untuk bebas melakukan apa saja. Tetapi kebebasan yang kita miliki kita menghambakan diri kepada Kristus (1 Kor. 7:22). Jadi apapun profesi kita, kita adalah Hamba Kristus. Artinya kita harus melakukan apa yang Tuhan kehendaki dalam setiap pekerjaan kita. Jadi jangan hanya memikirkan keuntungan bagi diri sendiri, tetapi pikirkan rencana Tuhan yang harus terpenuhi dalam diri kita, sehingga kita tidak boleh bermegah dengan yang kita miliki sekarang, karena itu adalah Karunia Tuhan. 
Diskusi:
1.     Apa yang membuat orang, sering memegahkan diri (sombong). (aha do mambahen jolma jotjot madabu tu Ginjang ni roha)?
2.     Apa yang harus kita lakukan agar tidak memegahkan diri (sombong)? (Aha do naboi bahenonta, asa unang madabu hita tu ginjang ni roha)?

Kamis, 14 Juni 2012

“Jangan Panik“ (Markus 4 : 35 – 41)


Epistel Minggu ke III Setelah Trinitatis

Dalam kehidupan sering kali kita diperhadapkan pada persoalan atau masalah dan realita yang tidak dapat kita pahami sehingga ada kalanya hidup jadi tidak menentu dan kita mulai kehilangan pegangan dan pengharapan. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Nats ini mengajarkan apa arti pengharapan bagi orang percaya. Jika saja kita menyadari keberadaan kita dan siapa Allah yang kita percayaai maka seburuk apapun persoalan atau masalah yang kita alami dan segelap apapun kabut yang ada didepan kita, harapan itu selalu ada. Jadi sebenarnya berakhir atau tidaknya sebuah harapan adalah tergantung pada diri kita sendiri. Bagaimana agar kita tidak menjadi panik dalam menghadapi persoalan atau masalah ada tiga hal yang harus kita sadari, yaitu :
1.       IKUT TUHAN YESUS BUKAN TANPA MASALAH ATAU PERSOALAN. Ketika perahu yang ditumpangi oleh Tuhan Yesus dan para muridNya dilanda angin ribut dan gelombang yang sangat dahsyat, murid-muridNya menjadi kalang kabut / panik sehingga mereka merasa akan binasa. Berbeda dengan Tuhan Yesus, angin ribut dan gelombang itu tidak mempengaruhiNya sehingga Yesus tetap bisa tidur ditengah-tengah kondisi yang diancam oleh gelombang yang dahsyat.  Jadi bagaimana kita menyikapi masalah atau persoalan yang ada? Kita harus menyadari bahwa rencana Tuhan dalam hidup kita bukan berarti harus menyingkirkan masalah atau pergumulan seperti angin ribut dan gelombang, tetapi masalah dan pergumulan hidup tidak punya hak untuk menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Untuk itu jangan lari dari masalah atau persoalan tetapi tetaplah melangkah. Seperti yang dikatakan dalam nats ini “Marilah kita bertolak kesebrang” ay.35. Tempat kita “di sebrang”  bukan diangin ribut dan gelombang yang dahsyat. Karena itu jangan panik!
2.       LIBATKAN TUHAN YESUS DALAM MASALAH ATAU PERGUMULAN ANDA. Jangan sekali-kali berlayar dalam mengharungi lautan dalam kehidupan anda dengan kekuatan sendiri.  Sebab kemampuan anda dalam mengendalikan perahu kehidupan anda tidak akan pernah memadai / mampu ketika angin ribut dan gelombang dahsyat menerpa seperti penderitaan karena penyakit atau pergumulan apapun yang mau tidak mau pasti datang dalam kehidupan kita. Sertakan Tuhan Yesus dalam perjalanan itu sehingga anda dapat menghadapinya ketika persoalan atau masalah itu anda jalani (ay. 36). Karena perjalanan dalam kehidupan kita tidak akan pernah bebas dari masalah atau persoalan, maka kita sangat membutuhkan kehadiran Yesus didalamnya sehingga kita tidak perlu panik ketika masalah datang. Selain itu berilah kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk berbuat sesuatu ketika masalah dan pergumulan datang. Jangan biarkan Tuhan Yesus berdiam diri karena hanya Tuhan Yesuslah yang mampu membuat kita dapat mengatasi masalah atau persoalan itu sehingga kita tidak perlu panik karena kuasa Tuhan Yesus yang memampukan kita.
3.       JANGAN TAKUT TETAPI PERCAYALAH KEPADA TUHAN YESUS. (Ay.40). Sebagai anak-anakNya kita harus tetap percaya dan mengandalkan harapan pada Pribadi yang maha kuasa dalam kehidupan kita yaitu kepada Tuhan Yesus. Dalam melaksanakan perintahNya kita perlu memiliki keyakinan. Adakalanya perintah Tuhan tidak sesuai dengan akal kita, sehingga seringkali kita cendrung untuk mencari jalan keluar sendiri. Tanpa percaya mustahil kita akan menemukan jawaban Tuhan.  Kita mesti belajar untuk bertindak bukan berdasarkan apa yang kita anggap benar, tetapi berdasarkan apa yang dianggap Allah benar. Cara berpikir kita harus kita selaraskan dengan cara berpikir Allah sehingga sikap kita pun akhirnya akan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian sebagai anak-anak Allah maka kita tidak perlu panik apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.

Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
“Ai ndang adong na so tarpatupa Debat”

Kamis, 31 Mei 2012

“ALLAH TETAP SETIA MENDENGARKAN DOA DAN PERMOHONAN ORANG YANG PERCAYA" Kis 1: 15-26

Minggu Exaudi : Dengarlah, Tuhan, seruan yang kusampaikan.

Sama halnya dengan injil Lukkas, Buku Kisah Para rasul dipersembahkan kepada seorang yang bernama Theopilus (Lukas 1: 1 dan Kis 1: 1).  Theopilus adalah orang terkemuka sebab  ia bergelar orang yang mulia, yang diberikan kepada wali negeri orang Roma di Yudea.  Ia sudah mengetahui sedikit banyak tentang orag-orang yang percaya kepada Yesus, sehingga Lukas ingin memberi dia keterangan yang lebih tepat tentang iman kristen yang harus dipercaya.
Kisah para rasul menggambarkan bagaimana Allah bekerja dan memberikan suatu harapan pada orang yang percaya tentang bagaimana  dan apa, yang harus dilakukan pengikut Yesus setelah Yesus mati dan bangkit dari kematian yang naik ke sorga kepada Allah Bapa. Setelah Yesus naik ke surga, Yesus tidak lagi bersamasama dengan murid-murid-Nya yang selama di dunia tetap setia membimbing dan mengarahkan para  murid-murid-Nya. Murid Yesus harus belajar dengan mejalin hubungan yang baru dengan Tuhan Yesus, yaitu percaya dengan ucapannya dan penggenapan. Dia tidak akan membenarkan mereka berjalan tanpa bimbingannya.
Saudara seiman. Orang yang dipilih oleh Allah menjadi hamba adalah orang-orang pelaksana tugas yang mulia sebagai penyebar Firman. Karena itu hendaknya sebagai hamba Tuhan haruslah hidup dalam Firman Tuhan. Dalam Nats ini Petrus adalah orang yang sangat dekat dengan Tuhan Yesus selama Yesus berada di dunia dan boleh dikatakan Petrus adalah teman yang setia bagi Yesus “lepas dari pengingkarannya”. Dia tampil mengarahkan para hamba Allah untuk setia walaupun Yesus tidak lagi bersamasama dengan mereka. Maksud dan tujuan Petrus adalah melihat kegagalan Yudas yang berhianat. Petrus mengatakan  Yudas adalah orang yang dipilih menjadi hamba Tuhan, tetapi dia mengingkar bahkan menjadi musuh dari kebenaran yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Oleh karena keserakahannya sendiri.
Dalam situasi yang demikian sulit penduduk Yerusalem mengadakan satu usulan yaitu memilih  pengganti Yudas. Mereka mengusulkan dua nama: Yusuf yang disebut Barsabas dan juga yang bernama Yustus dan Matias ayat  23. Dalam doa dan permohonan kepada Tuhan Allah, biarlah hamba yang dipilih adalah hamba yang diberkati Tuhan Yesus. Dalam situasi yang diundi yang terpilih adalah Matias.
Saudara seiman, yang menarik dan yang harus kita pergumulkan adalah bukan semata dalam proses pemilihan hamba atau bagaimana cara pemilihannya dan siapa yang menjadi pemenang yang harus diperhatikan adalah:
- Tugas sebagai hamba Allah. Untuk menyatukan dan bersaksi tentang mujijat dan kebesaran Tuhan Yesus, yang maha adil maha kasih dan penyayang.
- Untuk menjadi kerukunan jemaat Tuhan dan hidup saling berdampingan dan satu tujuan yang mulia yaitu menjadi umat Tuhan yang setia.
- Menjadi gembala (parmahan) yang tidak membiarkan para dombannya tersesat dan jatuh ke dalam maut yang membahayakan para domba Allah.
Sekarang kita adalah gembala jemaat Tuhan masa kini yang dipilih dan dipanggil untuk melayani pekerjaan Tuhan. Bukan lagi hanya “Parhalado” sebagai pelayan. Tetapi semua jemaat Kristen yang percaya kepada Yesus dipilih untuk menjadi saksi, bekerja dalam bimbingan Tuhan. Kita diajak melalui nats ini dalam tugas masing-masing: “Parhalado” baik dia bekerja sebagai parhalado, jemaat juga bekerja dalam iman untuk bersaksi Tuhan adalah maha kuasa.
Dengan melihat tugas kita masing-masing sebagai pelayan Tuhan kita tidak lagi larut dalam bayang-banyang ketakutan karena Tuhan telah naik ke Sorga dan meninggalkan orang percaya di dunia ini, dan kita menghadapi dunia ini yang penuh tantangan dan cobaan. Kita diingatkan; Tuhan naik ke Sorga adalah menyediakan tempat bagi kita orang yang percaya kepada-Nya. Allah akan menguatkan kita dengan turunnya Roh Kudus sebagai pelindung kita.

Renungan dan diskusi:
- Apakah yang harus saya perbuat sebagai pelayan yang dipilih oleh Tuhan?  (Aha ma na naeng patupaongku songon parhobas na dipillit Debata?               

Senin, 07 Mei 2012

KIAT MEYAKINI DOA : BAGAIMANA CARANYA?

Kotbah Kebaktian Weyk Minggu Rogate

Mazmur 98 : 1-9

Doa kepada TUHAN dapat kita ungkapkan dengan kata-kata sebagaimana kita berbicara kepada sesama kita. Tetapi kita juga dapat berdoa kepada TUHAN melalui nyanyian pujian yang kita nyanyikan bagi TUHAN. Dalam kitab MAZMUR banyak kita temukan nyanyian yang menjadi doa kepada TUHAN. Boleh dikata bahwa Nyanyian adalah doa sebab: Nyanyian bisa berisi harapan kepada TUHAN, Nyanyian bisa menjadi merupakan kesaksian atas apa yang kita imani tentang siapa TUHAN yang kita percayai. Mazmur 98 merupakan Mazmur yang berisikan pujian yang memperkenalkan pribadi TUHAN dalam bentuk nyanyian. Sehingga melalui Mazmur ini kita hendak belajar bagaimana kita MEYAKINI SETIAP DOA YANG KITA SAMPAIKAN KEPADA TUHAN dengan mengingat siapa TUHAN yang menjadi alamat doa kita.

Jemaat terkasih, mari kita menyakini doa dengan mengingat:

1.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah TUHAN yang berkuasa (Ay. 1 – 2)
Dalam kehidupan sehari-hari: Jika kita memerlukan pertolongan maka kita akan pergi kepada seseorang yang pasti lebih kuat, lebih mampu dan lebih memiliki kekuasaan daripada diri kita sendiri. Boleh dapat dipastikan bahwa kita tidak pergi meminta pertolongan kepada seseorang yang lebih lemah dari diri kita.
Kita dapat menyakini doa ketika kita mengetahui dan mempercayai bahwa alamat kepada siapa kita berdoa itu adalah pribadi yang berkuasa. TUHAN kita adalah TUHAN yang telah dan akan selalu memperkenalkan kuasaNya. Alam semesta telah memperkenalkan kuasaNya, pemeliharaan atas ciptaan dan diri kita sendiri telah memperkenalkan kuasaNya. Bahkan TUHAN telah memperkenalkan kuasaNya melalui keselamatan di dalam diri Yesus Kristus. Dalam Ibrani 13:8 : “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”, kuasaNya tetap selama-lamanya. Yakinilah doamu sebab engkau sedang memohon kepada TUHAN yang berkuasa melakukan segala perkara bahkan berkuasa melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan, Ef. 3:20.

2.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah TUHAN yang setia (Ay. 3-8)
TUHAN yang menjadi alamat doa kita adalah TUHAN yang setia. Sekalipun kita tidak setia maka Dia tetap setia sebagaimana tertulis dalam II Timotius 2: 13 : “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Tuhan adalah TUHAN yang setia mendengarkan doamu. Dia selalu menyendengkan telingaNya atas doamu.
Dia selalu mengingat kasih setia dan kesetiaanNya dengan mengetahui dan memberi apa yang kita butuhkan. Dia bagaikan seorang ibu yang  selalu mengingat bayinya. Yesaya menggambarkan kasih setia TUHAN seperti ini: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kendungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau (Yesaya 49:15). Yakinilah doa sebab TUHAN setia mendengar dan menjawab apa yang engkau doakan.

3.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah RAJA (Ay. 9)
TUHAN  adalah Raja di atas segala raja dan TUHAN dari segala tuan. Dia adalah raja yang memerintah atas segala yang diciptakanNya. Dia Raja yang memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Dia adalah Raja yang berkuasa, Dia berkuasa mengatur segalanya demi kebaikan umatNya. Oleh karena itu, yakinilah doamu sebab TUHAN yang menjadi alamat doamu adalah Raja yang memberi engkau keadilan dan kebenaran atas segala hidupmu. Dia akan membelamu ketika Engkau meminta keadilan atas orang-orang yang berlaku curang. Yakinilah doamu sebab TUHAN yang menjadi alamat doamu adalah Raja yang dapat memerintah segalanya demi kebaikanMu.

Bahan Diskusi :
1.    Apakah yang mendorong kita sebagai umatNya bernyanyi bagi Tuhan satu nyanyian baru? (Aha do na mangonjar rohanta songon huria hita mangendehon ende naimbaru sada?)
2.    Bagaimana sikap kita sebagai umat Tuhan berkantate? (Boha do sikapnta songon huria berkantate?)
3.    Mengapa gereja harus tetap berkantate saat menghadapi kesulitan, perjuangan, kesedihan? (Boasa huria ingkon menontong markantate?)