Tampilkan postingan dengan label Pdt. E. D. Nainggolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pdt. E. D. Nainggolan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

MANAKAH YANG ANDA PILIH: MENDAPAT HIDUP YANG KEKAL ATAU KEHINAAN DAN KENGERIAN YANG KEKAL?


Daniel 12 : 1-3


          Salah satu persamaan mendasar dari semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia ini adalah mempercayai adanya sorga (hidup yang kekal) dan neraka (kehinaan dan kengerian yang kekal), meskipun dengan sebutan ‘sorga’ dan ‘neraka’ itu berbeda-beda di setiap agama dan kepercayaan. Tentunya harapan semua penganut agama dan kepercayaan melalui  ajaran yang dipercayainya adalah bahwa dia ada di sorga bukan di neraka. Bagaimanakah dengan kita ? Apakah kita memiliki harapan yang pasti bahwa kita kelak ada di sorga ? Atau di neraka ? Mana yang engkau pilih hidup yang kekal atau kehinaan dan kengerian yang kekal ? Jika kepada saudara ditanyakan: Jika anda meninggal dunia, apakah anda memiliki keyakinan bahwa anda ada di sorga ? Apa jawaban anda, di sorga atau di neraka ?
          Nah, jemaat yang berbahagia ! Melalui nubuatan yang disampaikan Allah melalui nabi Daniel dalam konteks penderitaan yang dialami oleh umat Allah waktu itu, saudara hendak dibimbing untuk mengerti, mempercayai dan memegang teguh bahwa saudara telah memiliki hidup yang kekal (sorga).
1.  Pastikan bahwa saudara telah menerima dan percaya dalam nama  Tuhan Yesus.
      Secara umum bahwa Daniel pasal 12 ini, khususnya ayat 1-3 adalah penglihatan yang diberikan Allah yang membicarakan sesuatu yang akan terjadi. Bahkan ayat 1-3 ini adalah firman yang akan diselidiki banyak orang (lihat ayat 4). Ya, terpujilah nama TUHAN sebab apa yang dibicarakan di dalam nats ini telah digenapkan dalam diri TUHAN kita Yesus Kristus. Sebab nama Mikhael adalah salah satu nama dari banyak nama untuk Yesus sendiri. Mikhael yang disebut sebagai pemimpin besar itu nampak dari kuasanya yaitu mendampingi  dalam kesesakan yang besar dan memiliki kuasa untuk membangkitkan orang yang sudah mati. Siapakah yang mampu membangkitkan orang-orang mati kalau bukan Anak Allah, Yesus Kristus sendiri.
      Jemaat yang terkasih, saudara dan saya adalah orang yang berbahagia karena sebenarnya jika kita menerima dan percaya dalam nama Yesus Kristus (Lihat: Yohanes 1: 12) itu berarti kita telah menjadi anak-anak Allah dan memiliki hidup yang kekal (Bnd. Yohanes 3: 16; 6: 47, 10: 28, 1 Yohanes 5: 11-13). Percayai dan peganglah dengan teguh apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes  5:24: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”. Namamu telah tertulis di dalam Kitab kehidupan saat saudara menerima dan percaya kepada karya penebusan yang dilakukan Yesus di kayu salib (Bnd. Ibrani 9: 24-28). Sebagai alat penguji pertama bahwa kita telah menerima dan percaya kepada nama Yesus Kristus adalah kapanpun, dan di manapun kita meninggal dunia kita yakin pasti ada di sorga karena iman kepada Yesus Kristus. Kita akan disebut sebagai orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.
2.  Pastikan bahwa saudara tidak goyah dalam menghadapi penderitaan sebagai kesaksian bahwa saudara telah memiliki hidup yang kekal.
      Sepanjang sejarah, umat Allah menghadapi berbagai masa sengsara. Akan tetapi, masa-masa sengsara tersebut masih kalah bila dibandingkan dengan masa sengsara (kesesakan) yang besar yang masih akan datang menjelang akhir zaman. Kesengsaraan paling hebat akan dihadapi oleh umat Allah menjelang akhir zaman (12:1; bandingkan dengan Matius 24:4-22 dan Markus 13:5-20). Sekalipun demikian, kita tak perlu takut. Kepastian dan jaminan akan keselamatan dalam memiliki hidup yang kekal yang telah diberikan oleh Yesus tetap membuat keberanian bagi kita untuk menghadapinya. Sebab kita akan mampu katakan: sekalipun aku harus meninggalkan dunia, sekalipun dunia ini hancur, aku tidak takut sebab toh … aku akan ada bersama dengan Allah. Sehingga kita mampu berkata seperti Paulus berkata: Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18). Sebagai alat penguji kedua bahwa kita telah menerima dan percaya kepada nama Yesus Kristus yang memberikan hidup yang kekal itu adalah bahwa kita tidak takut menghadapi kesengsaraan sebesar apapun sebab Tuhan Yesus sendiri yang akan mendampingi kita (Bnd. Mazmur 23).

Pertanyaan untuk di diskusikan:
1.  Apakah alat penguji yang menyatakan bahwa kita telah memiliki hidup yang kekal dan ayat Firman Allah mana saja yang dapat meneguhkan kita untuk mempercayainya ?
2.  Sepanjang kita hidup di dunia ini tidak akan pernah luput dari masalah, penderitaan dan kesengsaraan, pertanyaannya apakah yang dapat membuat kita teguh menghadapinya ?

Kamis, 25 Oktober 2012

“MENJADI YANG TERBESAR” Markus 9 : 30-37


Kebesaran telah menjadi pokok pembicaraan yang hangat diantara murid-murid Yesus. Mereka memikirkan tentang kebesaran seseorang dalam paradigma dunia, maka mereka bertanya kepada Yesus :“Tuhan siapakah yang terbesar dalam kerajaan Allah?”. Jawaban Yesus ternyata sangat tidak terduga. Yesus menunjuk hati dan sikap seperti hamba dan anak-anak adalah jalan bagi kebesaran hidup seseorang. Kebenaran ini sangat menantang dan membesakan kita dari belenggu keangkuhan dan perbudakan ego yang menggerogoti jiwa kita.
Sebagaimana kita ketahui, dosa mengakibatkan manusia hidup dengan berpusat pada diri sendiri, bukan lagi pada Allah. Hal ini mengakibatkan manusia dikuasai keangkuhan hidup dan harga diri yang salah. Yesus datang untuk menyatakan kebenaran yang memerdekakan jiwa kita. Yesus tidak ingin murid-muridNya tetap memiliki paradigma duniawi dan mengejar sesuatu yang  berlawanan dengan rencana Allah. Yesus ingin merubah dan membawa murid-muridNya kedalam kehidupan yang dipenuhi kemuliaan Allah yang kekal, bukan hanya kemuliaan duniawi yang bersifat sementara. Kebesaran yang Yesus ajarkan berbenturan dengan ego manusia. Yesus menunjukkan jalan MENJADI BESAR dan TERKEMUKA bukan berpusat pada kekuasaan tetapi pada PELAYANAN. Orang yang mau melayani (menjadi hamba orang lain) sebenarnya sedang berjalan dalam kesuksesan. Semakin dia bersedia merendahkan hati bagi kebahagiaan orang lain, ia semakin ‘naik’ kearah kebesaran yang Tuhan sediakan. Dan Yesus adalah hamba yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini.
SEORANG HAMBA ADALAH SEORANG YANG RENDAH HATI. Tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk menyombongkan semua pekerjaannya. Bagi seorang hamba kesempatan untuk bisa melayani merupakan kesempatan yang dinanti-nantikan. Ia merasa mendapatkan suatu kehormatan bila bisa melayani. Yesus memberikan teladan yang luar biasa sempurna bagaimana Ia dengan rendah hati meninggalkan kemuliaaNya di surga dan datang kedunia sebagai hamba yang hina dan miskin dan tidak diperhitungkan. Tetapi karena itu Bapa meninggikanNya. Demikian juga kita, Bapa akan meninggikan hidup kita bila kita bersedia merendahkan hati bersama dengan Yesus (1 Petrus 5:6).
SEORANG HAMBA AKAN MELAYANI DENGAN SUKACITA. Tidak ada alasan bersungut-sungut. Kapanpun ‘tuan’nya membutuhkan, bagaimana pun situasi dan kondisinya, seorang hamba harus siap sedia untuk orang-orang yang dilayaninya. Bahkan seorang hamba akan bersedih hati bila tuannya tidak pernah memberikan tugas/pekerjaan kepadanya. Sebagai hamba, Yesus menerima tugas dari BapaNya dengan sukacita walaupun Ia harus menderita dan memberikan nyawaNya diatas kayu salib. Inilah hati seorang hamba yang sungguh-sungguh mengasihi tuannya.
SEORANG HAMBA TIDAK AKAN MENUNTUT PERSAMAAN HAK. Ia tidak akan mempersoalkan posisi dan jabatannya. Sepenuhnya ia menyadari, bahwa ia ada untuk melayani bukan untuk mengejar sebuah posisi/jabatan. Seorang hamba tidak pernah memilki kecemburuan/iri hati dengan jabatan, fasilitas, kekayaan, maupun kesempatan yang dimilki oleh orang yang dilayaninya maupun dengan sesama hamba. Yesus sebagai hamba yang sempurna tidak pernah menuntut persamaan hak dari BapaNya. Ia menerima apapun yang diberikan dan diperintahkan oleh BapaNya dengan tulus hati.
Dalam budaya manapun konsep tentang menjadi seorang hamba pada umumnya dipandang rendah dalam masyarakat kita. Semua orang menginginkan kedudukan, gelar, nama besar, popularitas dilayani dan dihormati oleh banyak orang. Karena itu hanya orang yang telah menerima Yesus Kristus dalam hidupnya yang mampu meneladani kepribadian Yesus sebagai hamba Allah. Melalui topik minggu yang menekankan YESUS MESIAS ANAK ALLAH YANG HIDUP, maka sebagai murid Kristus yang sekaligus hamba Allah kiranya kita dapat mengemban tugas dan kepercayaan yang diberikan kepada kita dengan rendah hati dan penuh dengan sukacita selama hayat kita sebagai ungkapan syukur atas karya Kristus yang telah membebaskan kita dari kematian yang kekal.

Bahan diskusi :
1.  Bagaimanakah sikap yang menunjukkan bahwa kita melakukan tugas dengan rendah hati? (Songon dia do hataridaan ni naung serep rohanta di angka ulaon napinasahat tu hita?)
2.  Bagaimanakah sikap kita dalam kegiatan/tugas sehari-hari bila menghadapi rintangan/tantangan yang menyulitkan kehidupan kita? (Boha do sikapnta di ngolu siganup ari molo jumpang angka paraloan na mambahen hamaolon di kegiatan manang tugas sehari-hari?)

Rabu, 01 Agustus 2012

Makan Untuk Hidup vs Hidup Untuk Makan! (Keluaran 16 : 2 – 4 ; 9 – 15)


Seringkali manusia tidak dapat menikmati kehidupan ini sehingga memungkinkan seseorang mengalami keputusaan lalu menyudahi hidupnya dengan tujuan selesailah perjuangan yang sulit itu, tapi benarkah demikian? Teks ini menceritakan pengalaman umat Israel yang tidak sabar dalam tuntunan Allah sehingga mereka bersungut-sungut dan menyatakan lebih baik mereka mengalami kematian di Mesir dengan kelimpahan dari pada harus mengahadapi perjalanan di Padang gurun. Demikian juga dengan manusia yang tidak mengerti akan arti hidup ini, sehingga menghalalkan segala cara dalam hidupnya asal ada makanan. Manusia lupa bahwa sejak penciptaan, Allah telah menyediakan apa yang diperlukan manusia termasuk makanannya untuk kehidupannya. Sekalipun manusia telah jatuh kedalam dosa yang mengakibatkan sulit atau harus berkerja keras untuk kebutuhannya, tetapi Allah tetap campur tangan untuk memampukan manusia menyelesaikan persoalannya sehingga Allah sendiri yang memulihkan keberadaan manusia itu dengan mengutus AnakNya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus. Didalam dan melalui Yesus Kristus manusia dapat memiliki kehidupan yang kekal, itu sebabnya Yesus Kristus menyatakan pengajaranNya saat Dia dicobai oleh iblis untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menjawab “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Ini berarti kehidupan manusia tidak tergantung dari makanan secara jasmani saja, bahkan belakangan ini banyak orang yang mengalami kematian karena tidak dapat mengendalikan ketamakannya terhadap makanan, yang menjadikan dirinya obesitas, kolesterol, darah tinggi dan lain-lain akhirnya Game Over.  Bagaimanakah kita sebagai umat Allah memaknai hidup di dunia ini (POLA HIDUP ORANG KRISTEN) :

1.        Mengetahui apa yang menjadi prioritas dalam hidup ini (ay.2-4). Artinya sebagai milik Tuhan Yesus Kristus, kita harus mempercayai bahwa Bapa di Surga mengetahui apa yang kita perlukan. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6 : 32,34).

2.       Melakukan aktifitas kehidupan kita dengan mewujudnyatakan iman kita kepada Allah yang Maha Kuasa (ay.9-12). Jika kita mengetahui bahwa Allah yang kita sembah adalah Bapa kita yang mengerti keperluan hidup kita tentunya kita dapat memohonkannya dalam doa dan permohonan denagn ucapan syukur bukan dengan bersungut-sungut kepada orang lain, hal inilah merupakan tindakan iman kita. Ketika kita menghadapi pergumulan atau masalah dalam hidup ini kita diajar untuk menyatakan dalam segala hal artinya kita harus terbuka dihadapan Tuhan, tidak perlu kita sembunyikan, inilah yang menjadi pola hidup Kristiani yang harus diwujudkan sebagai anak-anak Allah. Marilah kita belajar membentuk pola hidup yang baik dan berkenan kepada Allah dengan menyatakan segala sesuatu kepada Allah dengan ucapan syukur. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6).

3.      Mempercayai bahwa Tuhan-lah yang memberikan roti yang menjadi makanan kita (ay.13-15). Dalam injil Yohanes, Yesus menyatakan diriNya sebagai Roti Surga . “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga.  Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya,  dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."  (Yohanes 6:51). Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” (Yohanes 6:53). Ini adalah sebuah peristiwa dalam pelayanan Yesus di Galilea, dimana banyak para pengikutnya mengundurkan diri karena perkataan Yesus yang sangat keras, dimana para pengikutNya tidak dapat menerima. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yohanes 6:60). Dalam hal ini para pengikutnya tidak mempuyai kepekaan terhadap perkataan Yesus. Sesungguhnya perkataan itu tidak diterjemahkan secara harafiah, melainkan bagaimana dalam kehidupan kita sungguh-sungguh memilki sifat yang Yesus kehendaki.

Dengan demikian melalui hal ini kita dapat belajar untuk senantiasa berpaut kepada Tuhan dan senantiasa datang kepadaNya; pernyataan Yesus yang sangat tegas dan keras kepada para pengikutNya yang mengundur diri, sesungguhnya sangat bermanfaat untuk meneguhkan kita dalam mengoreksi kesetiaan dan ketaatan kita kepada Yesus Kristus. Menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan karena kita adalah milikNya semata.

Bahan Diskusi:
1.  Apakah yang menjadi prioritas dalam hidupmu? (Diama narumingkot dibagasan ngolum?)
2. Kepada siapakah kita menyatakan seluruh keperluan hidup kita? (Tu dia do pasahathon mu saluhut ngolum?) 
3. Siapakah yang memberikan seluruh keperluan hidupmu? (Ise do na sumarihon ngolum?)

Kamis, 14 Juni 2012

“Jangan Panik“ (Markus 4 : 35 – 41)


Epistel Minggu ke III Setelah Trinitatis

Dalam kehidupan sering kali kita diperhadapkan pada persoalan atau masalah dan realita yang tidak dapat kita pahami sehingga ada kalanya hidup jadi tidak menentu dan kita mulai kehilangan pegangan dan pengharapan. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Nats ini mengajarkan apa arti pengharapan bagi orang percaya. Jika saja kita menyadari keberadaan kita dan siapa Allah yang kita percayaai maka seburuk apapun persoalan atau masalah yang kita alami dan segelap apapun kabut yang ada didepan kita, harapan itu selalu ada. Jadi sebenarnya berakhir atau tidaknya sebuah harapan adalah tergantung pada diri kita sendiri. Bagaimana agar kita tidak menjadi panik dalam menghadapi persoalan atau masalah ada tiga hal yang harus kita sadari, yaitu :
1.       IKUT TUHAN YESUS BUKAN TANPA MASALAH ATAU PERSOALAN. Ketika perahu yang ditumpangi oleh Tuhan Yesus dan para muridNya dilanda angin ribut dan gelombang yang sangat dahsyat, murid-muridNya menjadi kalang kabut / panik sehingga mereka merasa akan binasa. Berbeda dengan Tuhan Yesus, angin ribut dan gelombang itu tidak mempengaruhiNya sehingga Yesus tetap bisa tidur ditengah-tengah kondisi yang diancam oleh gelombang yang dahsyat.  Jadi bagaimana kita menyikapi masalah atau persoalan yang ada? Kita harus menyadari bahwa rencana Tuhan dalam hidup kita bukan berarti harus menyingkirkan masalah atau pergumulan seperti angin ribut dan gelombang, tetapi masalah dan pergumulan hidup tidak punya hak untuk menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Untuk itu jangan lari dari masalah atau persoalan tetapi tetaplah melangkah. Seperti yang dikatakan dalam nats ini “Marilah kita bertolak kesebrang” ay.35. Tempat kita “di sebrang”  bukan diangin ribut dan gelombang yang dahsyat. Karena itu jangan panik!
2.       LIBATKAN TUHAN YESUS DALAM MASALAH ATAU PERGUMULAN ANDA. Jangan sekali-kali berlayar dalam mengharungi lautan dalam kehidupan anda dengan kekuatan sendiri.  Sebab kemampuan anda dalam mengendalikan perahu kehidupan anda tidak akan pernah memadai / mampu ketika angin ribut dan gelombang dahsyat menerpa seperti penderitaan karena penyakit atau pergumulan apapun yang mau tidak mau pasti datang dalam kehidupan kita. Sertakan Tuhan Yesus dalam perjalanan itu sehingga anda dapat menghadapinya ketika persoalan atau masalah itu anda jalani (ay. 36). Karena perjalanan dalam kehidupan kita tidak akan pernah bebas dari masalah atau persoalan, maka kita sangat membutuhkan kehadiran Yesus didalamnya sehingga kita tidak perlu panik ketika masalah datang. Selain itu berilah kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk berbuat sesuatu ketika masalah dan pergumulan datang. Jangan biarkan Tuhan Yesus berdiam diri karena hanya Tuhan Yesuslah yang mampu membuat kita dapat mengatasi masalah atau persoalan itu sehingga kita tidak perlu panik karena kuasa Tuhan Yesus yang memampukan kita.
3.       JANGAN TAKUT TETAPI PERCAYALAH KEPADA TUHAN YESUS. (Ay.40). Sebagai anak-anakNya kita harus tetap percaya dan mengandalkan harapan pada Pribadi yang maha kuasa dalam kehidupan kita yaitu kepada Tuhan Yesus. Dalam melaksanakan perintahNya kita perlu memiliki keyakinan. Adakalanya perintah Tuhan tidak sesuai dengan akal kita, sehingga seringkali kita cendrung untuk mencari jalan keluar sendiri. Tanpa percaya mustahil kita akan menemukan jawaban Tuhan.  Kita mesti belajar untuk bertindak bukan berdasarkan apa yang kita anggap benar, tetapi berdasarkan apa yang dianggap Allah benar. Cara berpikir kita harus kita selaraskan dengan cara berpikir Allah sehingga sikap kita pun akhirnya akan berubah sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian sebagai anak-anak Allah maka kita tidak perlu panik apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.

Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
“Ai ndang adong na so tarpatupa Debat”

Senin, 07 Mei 2012

KIAT MEYAKINI DOA : BAGAIMANA CARANYA?

Kotbah Kebaktian Weyk Minggu Rogate

Mazmur 98 : 1-9

Doa kepada TUHAN dapat kita ungkapkan dengan kata-kata sebagaimana kita berbicara kepada sesama kita. Tetapi kita juga dapat berdoa kepada TUHAN melalui nyanyian pujian yang kita nyanyikan bagi TUHAN. Dalam kitab MAZMUR banyak kita temukan nyanyian yang menjadi doa kepada TUHAN. Boleh dikata bahwa Nyanyian adalah doa sebab: Nyanyian bisa berisi harapan kepada TUHAN, Nyanyian bisa menjadi merupakan kesaksian atas apa yang kita imani tentang siapa TUHAN yang kita percayai. Mazmur 98 merupakan Mazmur yang berisikan pujian yang memperkenalkan pribadi TUHAN dalam bentuk nyanyian. Sehingga melalui Mazmur ini kita hendak belajar bagaimana kita MEYAKINI SETIAP DOA YANG KITA SAMPAIKAN KEPADA TUHAN dengan mengingat siapa TUHAN yang menjadi alamat doa kita.

Jemaat terkasih, mari kita menyakini doa dengan mengingat:

1.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah TUHAN yang berkuasa (Ay. 1 – 2)
Dalam kehidupan sehari-hari: Jika kita memerlukan pertolongan maka kita akan pergi kepada seseorang yang pasti lebih kuat, lebih mampu dan lebih memiliki kekuasaan daripada diri kita sendiri. Boleh dapat dipastikan bahwa kita tidak pergi meminta pertolongan kepada seseorang yang lebih lemah dari diri kita.
Kita dapat menyakini doa ketika kita mengetahui dan mempercayai bahwa alamat kepada siapa kita berdoa itu adalah pribadi yang berkuasa. TUHAN kita adalah TUHAN yang telah dan akan selalu memperkenalkan kuasaNya. Alam semesta telah memperkenalkan kuasaNya, pemeliharaan atas ciptaan dan diri kita sendiri telah memperkenalkan kuasaNya. Bahkan TUHAN telah memperkenalkan kuasaNya melalui keselamatan di dalam diri Yesus Kristus. Dalam Ibrani 13:8 : “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”, kuasaNya tetap selama-lamanya. Yakinilah doamu sebab engkau sedang memohon kepada TUHAN yang berkuasa melakukan segala perkara bahkan berkuasa melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan, Ef. 3:20.

2.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah TUHAN yang setia (Ay. 3-8)
TUHAN yang menjadi alamat doa kita adalah TUHAN yang setia. Sekalipun kita tidak setia maka Dia tetap setia sebagaimana tertulis dalam II Timotius 2: 13 : “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Tuhan adalah TUHAN yang setia mendengarkan doamu. Dia selalu menyendengkan telingaNya atas doamu.
Dia selalu mengingat kasih setia dan kesetiaanNya dengan mengetahui dan memberi apa yang kita butuhkan. Dia bagaikan seorang ibu yang  selalu mengingat bayinya. Yesaya menggambarkan kasih setia TUHAN seperti ini: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kendungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau (Yesaya 49:15). Yakinilah doa sebab TUHAN setia mendengar dan menjawab apa yang engkau doakan.

3.    Bahwa TUHAN yang kita kenal di dalam Yesus Kristus adalah RAJA (Ay. 9)
TUHAN  adalah Raja di atas segala raja dan TUHAN dari segala tuan. Dia adalah raja yang memerintah atas segala yang diciptakanNya. Dia Raja yang memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Dia adalah Raja yang berkuasa, Dia berkuasa mengatur segalanya demi kebaikan umatNya. Oleh karena itu, yakinilah doamu sebab TUHAN yang menjadi alamat doamu adalah Raja yang memberi engkau keadilan dan kebenaran atas segala hidupmu. Dia akan membelamu ketika Engkau meminta keadilan atas orang-orang yang berlaku curang. Yakinilah doamu sebab TUHAN yang menjadi alamat doamu adalah Raja yang dapat memerintah segalanya demi kebaikanMu.

Bahan Diskusi :
1.    Apakah yang mendorong kita sebagai umatNya bernyanyi bagi Tuhan satu nyanyian baru? (Aha do na mangonjar rohanta songon huria hita mangendehon ende naimbaru sada?)
2.    Bagaimana sikap kita sebagai umat Tuhan berkantate? (Boha do sikapnta songon huria berkantate?)
3.    Mengapa gereja harus tetap berkantate saat menghadapi kesulitan, perjuangan, kesedihan? (Boasa huria ingkon menontong markantate?)

Sabtu, 14 April 2012

“Dampak Kebangkitan Kristus bagi Orang percaya”

Lukas 24 : 36 – 48

Ketakutan adalah suatu momok yang menghantui kehidupan manusia sepanjang masa. Manusia ingin membebaskan ketakutannya dengan berbagai cara, misalnya: membangun pagar tinggi agar tidak kemalingan, membuat gembok gerbang/pintu yang canggih agar tidak dirampok. Sebagai orang mencoba mengatasi rasa takutnya dengan mencari ‘orang sakti’ yang bisa memberi mereka sistem perlindungan yang ‘supra natural’, misalnya dengan jimat, susuk, dll.
Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, ketakutan yang terbesar yang dihadapi manusia adalah kematian, karena itu Yesus Kristus yang adalah Tuhan telah melakukan persoalan yang kita hadapi membuat kita/orang percaya dapat bersuka cita. Dampak kebangkitan Kristus bagi orang percaya yaitu 1). Mendatangkan Damai Sejahtera yang dapat menghilangkan berbagai Ketakutan yang menguasai hidup manusia baik anak-anak maupun orang dewasa.
Manusia yang telah berdosa tidak dapat melepaskan dirinya dari keterikatan akan dosa dan upah dosa adalah maut. Sebab itu Kristus yang telah bangkit dari Kematian telah melepaskan/membebaskan setiap orang yang percaya kepadaNya. Kebangkitan Kristus bagi orang percaya membawa dampak Pengampunan dosa. Inti dari Kabar Baik adalah manusia yang berdosa yang seharusnya mengalami hukuman maut tetapi oleh karena kuasaNya sehingga Yesus datang ke dunia dan menanggung seluruh hutang dosa sehingga mati di Salib namun bangkit pada hari yang ke III. 2). Dampak kebangkitan Krsitus membawa orang percaya mengalami pertobatan dan pengampunan akan dosa.
Maka akibat Pengampunan dosa yang telah kita terima membuat setiap orang yang percaya kepada Kristus mengalami status yang baru yaitu sehingga anak-anak Allah bahkan saksi Kristus.
Artinya kebangkitan Kristus tidak hanya untuk orang tertentu tapi bagi dunia hal inilah yang membuat kita sebagai saksi Kristus akan memberitakan kebangkitan Kristus kepada seluruh dunia dimulai dari Yerusalem (sekitar kita) sampai ke ujung Dunia. Minggu ini dikatakan Miseri Kordias Domini = Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan artinya memulai kesediaan orang percaya yang telah ditugaskan untuk memberitakan kebangkitanNya membuat dunia mengalami pemulihan karena dipenuhi dengan kasih setia Tuhan.
Selamat Berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan sehingga Dunia penuh dengan Kasih setiaNya. Amin.

Bahan Diskusi :
1.    Hal-hal apakah dalam hidupmu yang membuat engkau mengalami ketakutan, ragu-ragu?
2.    Sudahkah anda percaya bahwa dosamu telah dihapuskan/ditebus oleh Yesus Kristus?
3.    Sudahkah anda menerima Roh Kudus? Apakah dampak Roh Kudus dalam hidupmu?

Kamis, 09 Februari 2012

Renungan Minggu SEPTUAGESIMA, tanggal 5 Februari 2012 BERSABAR MENANTI JAWABAN TUHAN (Yesaya 40 : 21 - 31)

Menantikan sesuatu adalah pekerjaan yang dapat membosankan. Banyak orang pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa karena tidak sabar (tidak mau lebih lama untuk menantikan/menunggu). Bukankah hal serupa juga sering terjadi dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Allah. Terkadang kita menjadi sangat kecewa, letih dan bimbang karena doa-doa yang kita panjatkan tidak segera di jawab oleh Allah. Kondisi seperti itu sering kali berlarut-larut, sehingga kita kehilangan gairah dalam melayani, bekerja dalam kehidupan aktifitas sesehari, tidak ada semangat lagi ketika melakukannya. Kita menjadi jenuh dan bosan dalam menanti-nantikan jawaban Tuhan. Inilah hal-hal yang kadang-kadang membuat kita sebagai orang percaya tidak setia dan tidak memiliki keteguhan didalam iman.

Oleh sebab itu melalui nats ini Yesaya menguatkan orang Israel dengan mengatakan bahwa Allah memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya. Hal ini juga menyadarkan kita sebagai anak-anak Allah, agar kita memiliki iman yang teguh dengan menanti-nantikan Tuhan untuk mendapatkan kekuatan baru seperti BURUNG RAJAWALI yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya tidak menjadi lesu ketika berlari dan tidak menjadi lelah ketika berjalan.

BAGAIMANA CARANYA AGAR KITA SEMAKIN MEMPERCAYAAI DAN MENGANDALKAN ALLAH?

1.    Melalui mengenal/menyadari dan mengakui manusia sangat terbatas dihadapan Allah yang tidak terbatas itu (ay. 21-26). Iman bertumbuh bukan hanya karena hidup tanpa kesulitan/masalah. Keadaan yang sangat sulit dan genting sekali pun sebenarnya menjadi sarana untuk membentuk kita beriman yang lebih kepada Tuhan. Ujian terhadap iman sangat berguna untuk membuat kita lebih dewasa dalam iman. Perbuatan dan pertolongan Tuhan yang kita terima dapat kita rasakan/lihat ketika kita dalam kesulitan bukan ketika hidup kita aman-aman saja. Sykurilah kesulitan dalam hidupmu agar kita semakin menyaksikan kuasa Tuhan yang dahsyat menolong kita.

2.    Melalui menyadari kelemahan dosa dan kejahatan dan sedia datang kehadapan Allah yang Mahakasih (ay.27-30). Dalam perjuangan hidup sesehari karena kesulitan dan situasi dapat membuat kita terpuruk jatuh kedalam dosa. Sebagai anak-anak Allah marilah kita menghargai karya Allah yang telah menyelesaikan seluruh hutang dosa dunia termasuk dosa mu di KALVARI. Ingatlah saat Yesus Kristus sebelum mati, Dia menyatakan SUDAH SELESAI (Yoh. 19:30a) yang artinya tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat diselesaikan di KALVARI. Hal inilah yang membuat kita sebagai umat tebusan Allah dapat bertumbuh jika kita tidak BERKUBANG didalam dosa tetapi bangkit dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

3.    Melalui mengkhususkan hanya mempercayai Allah saja dan tidak ada yang lain (ay. 31). Pernyataan orang-orang yang menantikan Tuhan mendapat kekuatan baru seumpa burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya ; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Artinya selama kita didunia ini tidak akan pernah berhenti perjuangan yang harus dihadapi sejak kita dilahirkan sampai  kepada akhir hidup kita . Hal yang menjadi sukacita bagi anak-anak Allah justru rintangan yang kita hadapi tidak membuat kita menjadi putus asa tetapi justru menjadi satu tantangan yang harus dihadapi  bersama kekuatanNya. Tantangan yang dihadapi anak-anak Allah membutuhkan kita untuk mendemonstrasikan kuasa Allah dalam dunia ini. Ketika kita hanya mengandalkan kuasa Allah inilah yang menjadi bukti bahwa hidup kita hanya mempercayai kuasa Allah. Karena itu saudara ku, bersabarlah dalam setiap kesulitan hidup dan nantikanlah Tuhan mendemonstrasikan kuasaNya dalam hidupmu hal ini membutuhkan komitmen yang teguh sehingga setiap rintangan yang kau hadapi dalam hidup ini dapat menjadi tantangan yang mendorong kita untuk maju bersama Allah.

ARAHKANLAH HIDUPMU KEPADA TUHAN YANG MENEBUSMU

Ev. : Mazmur 62 : 6 – 13        Ep. : Junus 3 : 1 -10

Jemaat yang dikasihi Tuhan tak terasa kita hampir mengakhiri bulan yang pertama di tahun 2012. Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan tentunya jika kita masih bisa beraktifitas bahkan memenangkan berbagai perjuangan dalam hidup kita secara Pribadi, Keluarga bahkan Gereja secara hatopan tentu hal itu hanya karena anugrah dan kuasa Allah Sang Penebus kita melalui Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah pengakuan Daud yang menyadari banyaknya ancaman yang dapat membinasakan hidupnya dan menyadari keterbatasannya yang tidak dapat menjamin dirinya dapat mengalahkan segala yang akan memusnahkannya, mengarahkan agar kita juga mengarahkan hidup kita kepada Tuhan yang telah menebus hidup kita. Karna itu melalui nats ini kita diajak agar mengevaluasi diri apakah kita hidup mengarahkan diri kepada Allah Sang Penebus kita.
Sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang telah ditebus oleh Kristus, maka hendaknya kita menampakkan hidup hanya mempercayai Allah saja (Ay. 6 – 9). Pernyataan mempercayai Allah saja berarti menampakkan hidup yang hanya di kuasai oleh Allah. Ini berarti ketenangan dan kenyamanan dalam hidupnya hanya ada pada Allah. Dalam perjuangan hidup di dunia ini kita patut hanya bersandar/mengandalkan kuasa Allah saja sebab Allah itu setia tidak pernah berubah, kekal, maha kuasa dan memiliki otoritas dalam hidup kita. Dunia dapat berubah, kekuasaan pribadi, atau kelompok dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya, misalnya : seseorang memiliki kuasa saat dia sedang memiliki jabatan, gelar atau kekayaan namun jika hal itu tidak lagi ada maka tidak ada lagi kekuasaannya menjadi berkurang bahkan tiada lagi. Allah adalah Pribadi yang menyatakan kasih dan kesetiaanNya yang kekal. Hal ini dapat kita lihat, sekali pun manusia telah memberontak, jatuh kedalam dosa, namun Allah yang berinisiatif melepaskan kita dari kuasa dosa dan akibatnya melalui memberikan anakNya yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus Kristus agar kita tidak binasa (Yoh. 3 : 16) melainkan memiliki keselamatan/hidup kekal.
Sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang telah ditebus, kita harus menyadari keterbatasan dan jangan mau bersandar kepada harta yang memiliki keterbatasan (Ay. 10-11). Pemazmur menyatakan bahwa manusia ini hina dan kemuliaannya adalah kebohongan seperti angin bahkan lebih ringan dari angin. Namun manusia sering melupakan hal ini, sehingga untuk mempertahankan hidupnya dia memusnahkan sesamanya sebagaimana yang dinyatakan “manusia menjadi srigala terhadap sesamanya”. Tetapi bagi Pribadi, Keluarga dan Gereja yang telah ditebus oleh Kristus, maka ukuran ketenangan dan kenyamanan bukanlah terhadap dirinya dan kepemilikannya, artinya sekalipun kita memiliki harta yang sangat sederhana kita dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan sebab Allah lah yang menjadi pengandalan kita  dalam hidup ini.
Sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang ditebus kita harus mengingat aturan dan hukum Allah (Ay. 12-13). Manusia sering tidak sabar menghadapi penderitaan yang diakibatkan oleh situasi dan kondisi yang dihadapinya, bahkan sering mengambil jalan pintas dan membalas kejahatan dengan kejahatan juga untuk mempertahankan hidupnya atau melakukan antisipasi terhadap serangan yang dialaminya dengan kekuatan dirinya sendiri sehingga terjatuh kedalam dosa. Tetapi bagi Pribadi, Keluarga, atau Gereja yang telah ditebus Kristus dapat bertahan didalam penganiayaan, penderitaan yang dialaminya akibat situasi dan kondisi yang tidak menyukai keberadaan kekuasaan Allah dinyatakan didalam dunia ini. Kita harus percaya bahwa Allah memiliki kekuasaan atas dunia ini sehingga Dia sendiri yang berotoritas untuk menyelamatkan orang-orang yang telah ditebusNya. Kalau pun untuk sementara kita dapat merasakan penderitaan karena kebenaran yang harus kita nyatakan dalam hidup ini, kita harus mempercayai bahwa Allah yang adalah KEBENARAN akan menyatakan hukumNya. Sekalipun dalam dunia ini kita menyaksikan bahwa banyak orang yang mengalami penderitaan untuk mempertahankan KEBENARAN tetapi sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang telah ditebus janganlah menjadi undur untuk menyatakan eksistensinya dalam dunia ini. Demikianlah Pemazmur menyakini bahwa firman Allah pasti digenapi dalam hidupnya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan marilah sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus kita tidak menjadi serupa dengan dunia ini tetapi dapat tampil beda sebagai Pribadi yang telah mengalami pembaharuan didalam Kristus, kita dapat mewujudkan sebagai Pribadi, Keluarga dan Gereja yang mengarahkan diri kepada Allah sang Penebus sehingga kita dapat merasakan kehidupan yang aman dan nyaman dalam perlindungan Tuhan sekalipun ada banyak hal yang dapat membuat kita terpuruk dalam kehidupan ini. Kita juga dapat mempercayai segala keperluan hidup kita ada dalam anugrahNya sehingga tidak mengumpulkan harta dengan cara yang tidak berkenan dihadapan Allah. Demikian juga untuk keamanan dan kenyamanan masa depan kita menyerahkan kepada Allah yang memiliki otoritas dalam hidup kita sehingga tidak mempertahankan hidup dengan cara-cara dunia ini akhirnya kita tidak hidup dalam kebenaran firman Allah. Amin.